Halo semuannya kembali lagi bersama GremoryBlog HERO.. Kali ini Admin ingin membahas salah satu hukuman sadis pada masa lampau.. Artikel ini dibuat dari survei Admin lewat google, wikipedia, dan salah satu grub di facebook dengan inisial grup "DW.I".

Seperti judul di atas, Admin akan membahas hukuman yang dilakukan gajah. Hah? Gajah? Dipake buat HUKUMAN MATI? Mungkin bagi sebagian orang awam belum banyak yang mengetahui hukuman Gajah ini, atau mungkin jadi pertanyaan tersendiri bagi anda? ,maka dari itu Admin akan membahas secara terperinci disini. Oke Selamat Membaca...... Sebelumnya thanks for wikia/wikipedia indonesia.

Siapa sangka " selama ribuan" tahun, suatu metode hukuman mati yang umum dilakukan di Asia Selatan dan Tenggara . dan khususnya di India . Gajah Asia digunakan untuk menghancurkan, mengoyak-ngoyak, atau menyiksa tawanan di depan umum. Hewan-hewan gajah tersebut terlatih dan serbaguna, mampu membunuh dengan cepat atau menyiksa korban perlahan-lahan. Hukuman mati dengan menggunakan gajah dilakukan oleh penguasa untuk menegaskan kekuasaannya dan menunjukkan kehebatannya dalam menaklukan hewan liar.

Kecerdasan, domestikasi, dan fleksibilitas gajah memberi hewan tersebut keunggulan ketimbang hewan liar lainnya seperti singa dan beruang yang digunakan sebagai penghukum mati oleh Romawi. Gajah lebih penurut ketimbang kuda, meskipun seekor kuda dapat dilatih untuk dibawa ke medan perang, hewan tersebut tidak dapat menginjak seorang prajurit musuh, dan hanya dapat melangkah diatasnya. Gajah dapat menginjak musuh-musuh mereka, sehingga gajah perang dipopulerkan oleh para jenderal seperti
"Hannibal". Gajah dapat dilatih untuk menghukum mati tahanan dalam berbagai cara, dan dapat dilatih untuk memperpanjang penderitaan korban dengan membuatnya mati secara perlahan dengan cara disiksa atau secara cepat diperintahkan untuk membunuhnya dengan menginjak kepalanya. Artinya jika kau beruntung kau akan MATI secara cepat tanpa penderitaan, lalu jika kau tidak beruntung kau akan MATI secara perlahan-lahan saat diinjak gajah.

Pemandangan ketika gajah membunuh tawanan telah menarik banyak perhatian dan biasanya membuat para pelancong dari Eropa ketakutan, dan banyak dicatat dalam berbagai jurnal kontemporer maupun catatan perjalanan di Asia. Praktik ini pada akhirnya dilarang oleh para penjajah Eropa ketika menguasai daerah-daerah di Asia pada abad ke-18 dan 19. Selain di Asia, hukuman mati oleh gajah juga pernah diadopsi oleh kekuasaan di Barat, misalnya Romawi dan Kartago, khususnya terhadap tentara yang memberontak.


Cangkupan geografi penghukuman mati dengan gajah


Penghukuman mati oleh gajah telah dilakukan di berbagai bagian di dunia, oleh Kekaisaran Barat dan Timur. Catatan terawal mengenai penghukuman mati tersebut berasal dari
jaman klasik. Dan praktik tersebut masih berlanjut sampai abad ke-19.

Asia Barat : Pada zaman pertengahan, penghukuman mati dengan gajah digunakan oleh beberapa kekuasaan kekaisaran Asia Barat, meliputi kekaisatan Romawi Timur , Sasaniyah,
Seljuk and Timuriyah.


Di Niniwe, terdapat seekor gajah. Kepalanya tidak menonjol. Hewan tersebut berukuran besar, dapat memakan sekitar dua gerobak jerami sekaligus; mulutnya berada di bagian dadanya, dan ketika akan makan dapat membuka bibirnya sampai sekitar dua hasta , mengambil jerami tersebut, dan menempatkannya di mulutnya. Di sana, ketika Sultan sudah menyatakan hukuman mati untuk seseorang, maka ada orang-orang yang akan berkata pada gajah, "orang ini bersalah." Gajah itu lalu akan mengambil sang korban dengan mulutnya, melemparkannya tinggi-tinggi dan membunuhnya.


Sri Lanka : Seorang pelaut Inggris bernama Robert Knox, menulis pada tahun 1681, menceritakan sebuah metode penghukuman mati dengan gajah yang ia lihat saat sedang ditawan di Sri Lanka. Knox mengatakan bahwa Gajahnya memakai suatu besi dengan tiga ujung tajam di gadingnya. Gajah itu lalu menusuk korbannya dengan besi itu dan mengacak-acak organ tubuh sang korban.


Sang pemimpin memberi perintah pada gajah, 'bunuh orang itu!' Sang gajah lalu mengangkat belalainya dan menginjak-injak tanah. Sang pemimpin lalu berkata, 'Selesaikan sekarang,' dan sang gajah meletakkan satu kaki di atas kepala korbannya sementara satu kaki lainnya di atas perut korbannya, dan dengan sekuat tenaga gajah itu menghancurkan tubuh orang malang itu


India : Gajah digunakan sebagai penghukum mati terpilih di India untuk beberapa abad. Penguasa Hindu dan Muslim menghukum mati penghindar pajak, pemberontak dan prajurit musuh dalam keadaan "dibawah kaki gajah".



Penghukuman mati semacam itu biasanya diadakan di tempat terbuka sebagai peringatan bagi siapapun yang membangkang. Pada akhirnya, beberapa gajah khususnya yang besar, seringkali digemukkan sampai sembilan ton. Penghukuman mati tersebut seringkali dilakukan dan dibuat tragis. Mereka terkadang memperlihatkan penyiksaan dengan mengerahkan gajah yang sama yang digunakan untuk penghukuman mati tersebut. Penyiksaan dan penghukuman mati tersebut tercatat di Baroda pada 1814 dalam "The Percy Anecdotes."

Asia Tenggara : Gajah secara luas dilaporkan telah digunakan untuk melaksanakan penghukuman mati di Asia Tenggara, dan digunakan di Burma dan Malaysia dari zaman-jaman awal maupun di kerajaan Champa pada tempat lainnya di Semenanjung Indochina. Di Siam, gajah-gajah dilatih untuk melempar korban ke udara sebelum menginjak mereka sampai mati.

Sebuah jurnal dari John Crawfurd menyatakan tentang metode lainnya dari penghukuman mati dengan gajah di kerajaan "Cochinchina" (sekarang bagian selatan Vietnam ), ketika ia bertugas sebagai duta Britania pada tahun 1821. Crawfurd menceritakan bahwa pelaku kriminal diikat di kayu, lalu seekor gajah berlari ke arahnya dan menginjak-injaknya sampai mati.

Kekaisaran-kekaisaran Barat : Romawi, Kartago dan Yunani Makedonia adakalanya menggunakan gajah untuk penghukuman mati ketika juga menggunakan gajah perang untuk keperluan militer yang paling terkenal dalam kasus Hannibal . Pemberontak, tahanan perang dan penjahat militer telah banyak yang dilaporkan oleh penulis riwayat jaman kuno bahwa mereka dihukum mati di bawah kaki hewan besar ini.

Penulis Romawi Quintus Curtius Rufus menyatakan sebuah cerita dalam Historiae Alexandri Magni karyanya bahwa Perdikkas (penguasa Makedonia) pernah menghukum 300 orang pemberontak dengan cara melemparkan mereka pada gajah-gajah, yang langsung saja menginjak-injak tubuh mereka sampai hancur.

Oke mungkin hanya segitu saja gan.. Wah-Wah.. Gak nyangka juga ya ,Gajah pada zaman dahulu memiliki sejarah kelam. Pray for elephant jaman old.


Untuk mengikuti Artikel-artikel keren lainnya silakan follow blog ini ya gan.. STAY IN GREMORYBLOG HERO yang akan mereferensi bacaan yang anda gemari.. :D Happy Read...