A Story


Gerne : DRAMA |
Credit Fanfic : Kazama Sakura
Penulis : Kazama Sakura



Musim semi mulai tiba dan
senandung hangat dari
deburan akhir salju mulai
menghilang perlahan. Kaki-
kaki berbalut sepatu kulit itu
nampak melangkah nyaman melewati jalanan trotoar
menuju sebuah toko
sederhana yang menunjukkan buku-buku tua.

~Klinting~

Suara bel bersahut kala pintu
toko buku itu terbuka.
Menyadarkan sosok pemuda
yang nampak mengantuk di
meja kasir. Sang pemuda
melemparkan senyum ramah, menyambut kedatangan
sosok gadis dengan senyum
cerah itu.

"Hari ini novel Change Your
World sudah tiba!" ucap
pemuda itu memberi tahu.
Sang gadis nampak
sumringah dan berjalan
tergesa menuju barisan rak yang menampakkan list buku-
buku baru yang dipajang di
depan etalase.

Jemari mungilnya menjalar
menuju sebuah buku
bersampul biru dengan
pemandangan langit, siulet-
siulet sepasang anak manusia
nampak transparan di bagian langit di sampul itu. Senyum
di bibirnya mengembang. Dan
tak butuh waktu lama sang
gadis mulai sibuk dalam
dunianya. Membaca untaian
cerita-cerita manis yang menjadi kesukaannya itu.

"Sepertinya kau menyukai
Trilogi itu ya?" celetuk sang
penjaga perpustakaan. Sang
gadis menutup bukunya
sebentar, menghistirahatkan
matanya setelah sekitar dua jam mempelototi untaian
kalimat-kalimat dalam novel
tersebut.

"Ya, kisah cinta Arlene sangat
mengarukan. Selalu ada
konflik baru dalam
perjalanannya meneguhkan
cintanya pada Aflred." Jawab
gadis itu dengan mimik puas. "Aku berharap authornya
melanjutkan hingga seri
keempat." Imbuhnya.

Sang pemuda tertawa kecil.

"Kau sudah membaca
semuanya ya, dari seri
pertama?" ujarnya. Sang gadis
mengangguk.

"Ya, Trilogi Change, edisi
pertama Change The Destiny,
kemudian, Change My World,
dan yang terakhir adalah ini!"
ucap sang gadis. "Tidak
banyak toko yang memajang ketiga serinya secara lengkap.
Aku bersyukur bisa
menemukannya di sini!"
ujarnya.

Sang pemuda terkekeh.
"Baguslah, jarang sekali ada
gadis muda yang mau datang
ke sini." Tukasnya. "Toko buku
ini termasuk perpustakaan
tua, mungkin tidak banyak yang tahu kalau kami juga
menyetok buku baru."
Ucapnya.

Sang gadis tersenyum,
memperhatikan sudut-sudut
rak yang nampak lusuh.
"Sebenarnya hanya butuh
beberapa renovasi. Mungkin
juga sedikit promosi agar banyak orang tahu kalau
banyak buku-buku menarik di
tempat ini." Usul sang gadis.
"Agar tempat ini semakin
ramai."

Sang pemuda nampak
terkekeh, menyetujui ucapan
gadis itu. "Hm, mungkin aku
akan mengecat bagian
dengan dengan warna baru.
Bagian papan juga sudah memudar sejak lama."
Timpalnya.

Keduanya nampak bercakap
lumayan lama, hingga hari
mulai beranjak sore dan sang
gadis pamit untuk pulang.
Langit mulai nampak
meleburkan semburat- semburat orange di
cakrawala, bayangan tubuh
rampingnya nampak
memanjang dari ujung
jalanan. Netranya menatap
depan perpustakaan tua itu sejenak dan tersenyum
sekilas.

Ia setuju mengenai komentar
dari penjaga perpustakaan itu
bahwa banyak hal yang harus
dibenahi dari bagian depan
perpustakaan tersebut.
Kemudian ia melangkah meninggalkan tempat itu,
berlari kecil dengan riang
hingga ke ujung jalan.

~~~~~~

Musim semi memang masih
awal, namun sepertinya langit
sedang berduka sehingga
menangis sejak pagi tadi.
Sosok pemuda yang sejak
pagi berdiri di depan konter itu menghela nafas lelah.
Hujan membuat banya aktivitasnya tertunda, khususnya rencananya untuk
mengecat bagian depan perpustakaan tua yang ia tunggui sekarang. Memutuskan untuk membereskan beberapa buku, ia menumpuk buku-buku lama dan mengosongkan beberapa rak.

Kemudian sibuk mengecat.
Warna baru bisa memberikan
nuansa dan sedikit berhemat
karena tidak perlu
menghabiskan dana banyak
untuk mengganti rak. Suara rintikan hujan masih nampak
deras di luar sana, bahkan
embun nampak membasahi
lapisan kaca. Membuat ia tak
bisa dengan jelas melihat
jalanan yang nampak basah.

Ngomong-ngomong tentang
si gadis muda yang hobi
membaca di tempat itu, ini
sudah hampir satu minggu
gadis itu tidak kembali sejak
terakhir kali membaca novel Change Your World. Padahal
seingatnya gadis itu baru
membabat setengah bagian
dari novel itu. Namun
nampaknya sang gadis lebih
sibuk dengan dunianya sehingga vakum selama
beberapa waktu. Pemuda itu
hanya mampu menghela
nafas, berusaha tidak
memikirkan hal-hal yang
tidak perlu.

Si gadis manis yang selalu
datang ke perpustakaan tua,
hanya untuk menghabiskan
waktunya di ruang baca untuk
menandaskan novel-novel
berseri yang disediakan. Tangannya sibuk mengecat
rak, sampai sebuah suara
kelinting lonceng terdengar.
Netranya beralih pada sosok
gadis yang tengah tersenyum
ramah.

"Hai?" sapanya.

Lelaki itu mengangguk
dengan senyuman yang tak
kalah rama sebagai balasan
sapaan dari gadis itu. Sang
gadis nampaknya lebih
tertarik melihat apa gerangan yang tengah dilakukan
pemuda penjaga
perpustakaan itu.

"Kau mengecat rak?"
tanyanya. Sang pemuda
mengangguk samar. Masih
fokus pada kegiatannya
memoles sisi samping rak
dengan warna coklat tua.

Sang gadis memutuskan
untuk tak menganggunya dan
berjalan menuju konter
tempat novel yang dibacanya
seminggu lalu tergeletak.
Posisinya tidak berubah, hanya sedikit tertutup
tumpukan buku lain yang
sepertinya baru saja disortir.

"Buku-buku tua ini lumayan
bagus. Kenapa kau
memisahkannya dari yang
lain?" tanya gadis itu
kemudian sembari melihat-
lihat sampul buku berkertas kuning tersebut.

"Buku itu sudah tua sekali,
lagipula tema politik tahun
'80 tidak lagi populer."
Cetusnya. "Aku berencana
akan menyisakan buku-buku
sastra." Tukasnya.

Sang gadis mengangguk-
angguk. "Sepertinya kau
berencana mengurangi tema-
tema politik ya?" ujarnya.

Sang pemuda menyahut. "Ya,
cerita politik dan tema
psikologi tidak terlalu
populer. Jadi kurasa aku akan
menggantinya dengan cerita
fiksi dan pengetahuan umum."

"Kuharap akan banyak orang
yang datang ke sini." Ucap
sang gadis. "Kota ini adalah
kota kecil, wajar jika tidak
banyak orang yang suka
membaca. Sebagian dari mereka lebih senang
menghabiskan waktunya di
ladang, atau memerah susu di
perternakan milik sendiri."
Ucapnya.

"Ya, tapi belakangan
teknologi semakin maju. Aku
bersyukur kabel telepon
sudah bisa digunakan
sehingga proses pemesanan
buku jadi lebih mudah. Walau kendala dalam bagian kurir
masih tersendat hingga
berminggu-minggu." Cerita
pemuda itu sembari memoles
bagian akhir dari rak yang
telah dikerjakannya. Kemudian membiarkannya
agar bisa kering.

Bau kimia cat masih menguar
tajam dari rak yang baru saja
dicat ulang tersebut.

"Kudengar sebentar lagi akan
dibangun jalur kereta."
Celetuk si gadis.

"Ho, itu bagus. Kereta lebih
murah daripada mobil."
Tukasnya.

Keduanya nampak terkekeh.
Dan sang gadis meraih novel
yang sejak tadi menarik
perhatiannya. Kali ini ia
memutuskan untuk duduk di
kursi konter sembari asik membaca lanjutan novel
trilogi kesukaannya
sementara si penjaga
perpustakaan kembali
berkutat dengan rak lain.
Hingga beberapa lama keheningan menyelimuti
keduanya.

Hujan masih berjatuhan di
luar sana, suara rintikannya
nampak tenang dan
menguarkan aroma khas
hujan yang menyusup hingga
ke dalam konter. Sang gadis menutup novel yang sejak
tadi dibacanya dengan bunyi
'buk' yang lumayan keras di
tengah suasana sunyi di
dalam perpustakaan tua itu.
Ia telah rampung membaca novel itu.

Merenggangkan tubuhnya
sejenak dan bangkit untuk
melihat apa yang tengah
dikerjakan pemuda itu.
Sepertinya tengah sibuk
mengecat rak hingga tidak menyadari bahwa gadis
dengan dress selutut itu
melangkah mendekat.

"Perlu bantuan?" tawarnya.
Mata keduanya bertemu, sang
pemuda menarik sudut
bibirnya dan mengendikkan
bahu.

"Sortir saja buku-buku tua di
rak pojok sana!" perintahnya.
Gadis berambut panjang itu
mengangguk kecil dan tanpa
diperintah dua kali segera
bergegas melakukan tugasnya.

"Hai, boleh kutahu siapa
namamu?" tanya sang gadis
sembari mengangkat
tumpukan buku dan
melangkah menuju konter.

Sang pemuda yang tengah
sibuk mengecat rak itu
menghentikan kegiatannya
sejenak. Ia tersenyum lebar.
"Namaku Naruto!" tukasnya.
Sang gadis mengangguk- angguk.

"Salam kenal Naruto! Namaku
Hinata!" balas gadis itu
dengan senyum
mengembang.

Keduanya kembali
melanjutkan kegiatan
masing-masing. Hari semakin
siang dan hujan perlahan
mulai berhenti, sinar mentari
mengintip malu-malu dari arak-arak awan mendung
yang mulai menipis.
Menceritakan sebuah kisah
baru yang akan membawa
cerita tersendiri bagi dua
orang yang berada di dalam perpustakaan tua itu.

END





NOTE : CERITA "DISTRIK 4v4 CHAPTER 2" MUNGKIN AKAN SEDIKIT TERHAMBAT KARNA ADMIN TERNYATA DAPAT PANGGILAN KERJA SECARA MENDADAK. MOHON MENGERTI.